Mengamalkan Pancasila dalam Kehidupan Nyata

Memasuki bulan pancasila, Juni 2018, Fakultas Hukum Universitas Jember menyelenggarakan talkshow kebangsaan dengan tema “Pancasila Dalam Perbuatan”. Kegiatan yang digawangi oleh Puskapsi FH Unej ini  dilaksanakan di cafe Glofic Jember dengan mendatangkan lima oran nara sumber.

Nara sumber yang diundang, merupakan para profesional dari akademisi, pemerintahan, kehakiman, dan wartawan. Mereka adalah I dewa Gede Palguna, Hakim Mahkamah Konstitusi; dr Faida, MMR, bupati Jember; Fritz Edwar Siregar, anggota Bawaslu; Dr. Bayu Dwi Anggono, direktur Puskapsi FH Unej; Prof. Widodo Ekatjahjana, Dirjen Perundang-undangan; Indra Maulana, News Anchor CNN.

Fritz Edward, anggota bawaslu sedang mengisi materi
Narasumber FH unej

Talkshow yang dimulai pukul 19:30 WIB itu menyemarakkan tanggal 2 Juni 2018 dengan aktivitas diskusi yang mendalam tentang pancasila. Rosita memimpin diskusi yang berakhir pada pukum 23:00 itu dengan energik dan penuh guyonan. Dosen cantik Hukum Tata Negara FH Unej itu berkali-kali mengingatkan para nara sumber bersemangat,  tentang batasan waktu yang harus dipatuhi.

Dr Nurul Ghufron memberikan sambutan sekaligus membuka acara talksow. Ia menyampaikan bahwa banyak hal yang harus terus digali dan dipelajari dari pancasila. Salah satunya tentang “bagaimana ilham pancasila bisa diterima oleh bung Karno”. Dekan FH Unej itu menyampaikan bahwa pancasila bisa dibumikan lewat beragam profesi, seperti profesi para profesional yang dihadirkan.

Nurul Ghufron, dekan FH Unej sedang memberi sambutan

“Permasalahan apapun bisa dikembalikan kepada pancasila”, kata dr Faida. Bupati berhidung mancung itu memberikan beragam contoh dari kinereja pemkab Jember yang merujuk pada pancasila, masalnya: pembuatan perda difable yang bertujuan memberikan keadilan sosial kepada seluruh masyarakat. Dokter cantik itu mempertegas ucapannya bahwa “setiap orang memiliki kesempatan yang sama. Tidak ada sukses yang bisa diraih sendiri, maka harus bersinergi”.

Berbeda dengan Fritz Edward Siregar, ia menceritakan pengalamannya berburu beasiswa sampai ditolak sebanyak 32 kali. Ia menganggap bahwa pendidikan adalah kunci. Setiap orang harus semangat untuk berubah, dan semangat untuk bekerja. Anggota bawaslu itu menambahkan bahwa setiap manusia harus berani mengambil keputusan, karena mengambil keputusan adalah sebuah keharusan. Ia melanjutkan bahwa tanpa disadari , manusia harus mengambil keputusan sebanyak 52.000 kali dalam sehari.

Prof Widodo Menjelaskan Proses Lahirnya Pancasila

Hakim Mahkamah Konstitusi, Palguna, sangat bersemangat menceritakan masalalunya sejak menjadi mahasiswa. “Saya tidak mungkin bisa kuliah kalau tidak mendapat beasiswa”, katanya. Ia menceritakan proses dan pengalamannya setelah lulus kuliah pernah menjadi seorang penyiar radio. Hakim MK angkatan pertama itu memberikan pantikan kepada para hadirin, “adakah Indonesia kalau tidak ada pancasila ?”. Pertanyaan yang dijawab dengan koor tidak dari peserta, karena memang sejatinya Indonesia lahir bersebab spirit pancasila.

Pembicara selanjutnya, Prof Widodo menyampaikan bahwa pancasila 1 Juni bukanlah merupakan pancasilanya Soekarno, melainkan pancasila hasil musyawarah, yang berarti pancasilanya bangsa Indonesia.

Semua peserta antusia menikuti acara talkshow. Peserta yang terdiri dari para aktivis muda lintas bidang perjuangan itu mmengikuti dengan seksama talkshow yang diselingi hiburan pemecah “stand up comedi” dan band lokal jember sambil sesekali menyeruput es coklat yang sudah terhidang.