Peluang dan Tantangan Trend Halal dalam Perekonomian Global

 

 

“Halal” bukanlah istilah yang baru dikenal. Kata yang satu ini sudah cukup akrab didengar di kalangan masyarakat. Namun tahukah, bahwa istilah halal tidak hanya dikaitkan dengan makanan dan minuman saja, melainkan juga sudah merambah ke dunia kosmetik, fashion, perhotelan, bahkan pariwisata ?

Dalam pidato singkatnya pada pembukaan kuliah umum dengan judul “Tantangan Trend Halal dalam Industri pangan di dunia Global”, Dr. Nurul Ghufron, S.H., M.H menyebutkan bahwa perintah mengkonsumsi dan menggunakan barang halal dalam Alqur’an bukan hanya diperuntukkan bagi umat Islam saja, melainkan untuk semua umat manusia. Ia menukil Q.S Al Maidah:88 yang artinya “dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya” .

Dekan FH Unej memberi sambutan sekaigus membuka kuliah umum.

Dekan FH unej itu menambahkan bahwa istilah halal saat ini tidak hanya digunakan dalam makanan saja, melaikan sudah merambah ke dalam beragam barang yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat Indonesia. “contohnya saja jam tangan yang kita gunakan sehari-hari, harus dipastikan bahwa kulit yang digunakan adalah halal, dan diproses dengan cara-cara yang halal”, paparnya.

“Sebenarnya tidak cukup halal saja yang harus dipastikan, malainkan juga baik dan tidaknya sesuatu juga harus ditentukan”, katanya. “Islam memerintahkan untuk menggunakan yang halal dan baik. Bukan yang halal saja, atau baik saja, melainkan yang halal dan baik”, tambahnya dengan bersemangat.

Kuliah umum yang diadakan di Gedung Serba Guna FH Unej pada hari Kamis, 23 Maret 2018 itu full oleh para peserta yang antusias mengikuti acara. Ditambah, hadirnya bapak Ikhsan Abdulah, S.H.,M.H, direktur eksekutif Indonesia Halal Watch selaku pemateri, sangat memberikan pencerahan dan membuka cakrawala keilmuan para peserta yang terdiri dari tamu undangan dan mahasiswa FH Unej, serta peserta lain selain mahasiswa FH Unej.

Lelaki yang selalu energik dari awal sampai akhir kuliah umum itu mengatakan bahwa perintah menggunakan barang halal bukan hanya untuk umat muslim saja, beberapa agama pun memiliki perintah yang sama. Ia menyebutkan bahwa halal dan tidaknya suatu produk dinilai dari proses produksi, hingga sampai ditangan konsumen, semua prosesnya harus dilakukan dengan cara-cara  yang halal.

Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch memberikan materi di hadapan peserta

Pemateri yang merupakan alumni FH Unej itu memaparkan bahwa Indonesia yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia ini merupakan konsumen yang harus dilayani kebutuhan mereka akan produk halal dengan sebaik-baiknya. Semua produk yang akan dipasarkan di Indonesia kedepannya harus memiliki legalitas sebagai produk halal dari lembaga yang memiliki kewenangan untuk itu.

Namun demikian, ia menyebutkan bahwa laju industri halal di Indonesia saat ini masih terkesan stagnan dan jalan ditempat, jauh tertinggal dari negara lain. Padahal, tahun 2019 mendatang, pasar Indonesia akan dibanjiri oleh produk-produk asing yang telah mendapatkan sertifikasi halal dari Negara mereka dan juga dari lembaga yang memiliki otoritas halal di Indonesia.

Kuliah umum yang dipandu oleh moderator Fiska Maulidian S.H.,M.H itu ditutup dengan pertanyaan yang diajukan oleh peserta kepada pembicara. Salah satu peserta bertanya tentang jumlah biaya yang ditetapkan untuk membuat sertifikat halal pada suatu produk. Jawabnya, biayanya beragam, tergantung besar dan kecilnya skala usaha. Namun ia menekankan bahwa negara harus membantu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah untuk mendapatkan sertifikasi halal  pada produk mereka. “kalau bisa mereka mendapatkan subsidi supaya murah, kalau bisa ya gratis”, katanya disambut applous dari peserta.

Acara yang berlangsung sekitar 4 jam itu berlangsung lancar dan tertib. UKM Studi Islam Berkala (SIB) yang menjadi penyelenggara acara ini layak diapresiasi atas kesuksesan mereka menyelenggarakan acara. Bravo SIB, Bravo Produk Halal ! Halal is our life style !

Panitia SIB FH Unej Berpose bersama pemateri setelah berlangsungnya kuliah umum